The Voice of Istiqlal Mengadakan Kegiatan Youth For Harmony : Building A Peaceful And Inclusive World

The Voice of Istiqlal Mengadakan Kegiatan Youth For Harmony : Building A Peaceful And Inclusive World

Jakarta, 4 Maret 2026 – The Voice of Istiqlal menggelar kegiatan Youth For Harmony: Building A Peaceful And Inclusive World sebagai bentuk penegasan kembali komitmen kebangsaan dan lintas iman dalam menjaga kerukunan di tengah tantangan era digital. Kegiatan ini menghadirkan perwakilan dari Pusat Kerukunan Umat Beragama, komunitas kemanusiaan lintas iman, serta organisasi kepemudaan, yang menyampaikan berbagai gagasan strategis untuk memperkuat harmoni di tingkat nasional maupun internasional.

Dalam sesi pemaparan, disampaikan bahwa hoaks di media sosial menjadi salah satu ancaman serius yang berpotensi memecah belah masyarakat, khususnya generasi muda. Oleh karena itu, literasi digital dinilai sangat penting agar anak-anak muda tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

Selain itu, ditekankan pula pentingnya membentuk generasi yang mandiri, berkarakter, dan memiliki wawasan global tanpa meninggalkan nilai-nilai kebangsaan. Indonesia yang dipersatukan oleh semangat Bhinneka Tunggal Ika harus terus menjaga harmoni sebagai sesama umat beragama demi terciptanya kedamaian bersama.

Dari perspektif ajaran Kristen, nilai inklusivitas menjadi fondasi utama dalam membangun relasi antarmanusia. Setiap manusia diyakini memiliki martabat yang sama, sehingga tidak ada ruang bagi diskriminasi. Pesan kasih dan damai menjadi landasan untuk menghadirkan sikap saling menghormati serta menjadi agen rekonsiliasi di tengah masyarakat yang majemuk.

Sementara itu, dalam pandangan kepemudaan, proses terbentuknya pemikiran dipengaruhi oleh interaksi sosial yang terus berlangsung. Semakin sering seseorang terlibat dalam interaksi yang positif, semakin besar peluang terciptanya harmoni. Kolaborasi pemuda didorong sebagai langkah nyata dalam mencegah konflik sejak dini. Anak muda diharapkan aktif membaca, berdiskusi, serta mengedukasi masyarakat secara bijak.

Di era media sosial, pengaruh generasi muda sangat besar. Namun, tantangan literasi digital, khususnya pada usia 17 tahun ke atas, masih menjadi perhatian. Kurangnya kebiasaan membaca dan menalar informasi dapat menyebabkan mudahnya terpapar hoaks. Oleh sebab itu, penguatan kapasitas literasi dan kolaborasi lintas iman menjadi kunci dalam membangun dunia yang damai dan inklusif.

Tags : Seminar

Share :